Disabilitas. Disetarakan atau Diistimewakan?

by

Ini saduran dari pemikiran sahabat saya, Mew Da Vinci, mbak Lutfia Insani, penulis Jejak Mutiara Sultan Kammel di buku Kejutan Sebelum Ramadhan #15, beliau juga dapat ditemui di blog http://saidoonee.blogspot.com. Disini merupakan respon dari petisi persamaan hak dari salah satu calon customer disabilitas yang belum tercover oleh pihak bank swasta di indonesia.

Disini beliau (mew da vinci) dan saya (candy) utarakan bahwa perlu adanya kesiapan dari Bank ataupun Badan Usaha apa saja, apalagi yang diayomi oleh pemerintah, agar memperhatikan hak-hak kaum disabilities, bukan hanya keinginan disetarakan (yang mungkin kurang tepat jika keinginan tersebut adalah penyetaraan, tetapi kebutuhan untuk mengayomi berbagai keperluan mereka juga, salah satunya diberikan hak istimewa yang sesuai dengan kondisi calon customer, karena mereka memiliki hak yang sama, segala sesuatu yang ada pada diri mereka sebagian dari takdir yang tentu banyak hikmah dibalik itu semua.

Berikut tanggapan menarik dari beliau:

 

[quote]

Disabilitas memerlukan perhatian atau segala bentuk gangguan kesehatan lainnya layak untuk menerima pelayanan yang baik dan cara penyampaian yang sopan dari . Dikarenakan bank belum upgrade untuk memberikan fasilitas untuk disabilities, dapat ditijau dari, apakah ada mesin ATM yang dengan terang-terangan menyebutkan jumlah uang nasabah? misalnya, “total saldo anda per tanggal 29 agustus 2013, adalah senilai… tiga.. puluh juta… lima ratus… enam puluh satu ribu… empat ratus rupiah…”

Nah? gak ada kan? kalau pun ada.. dapat kemalingan nasabah tersebut. Misal saja mau dipercayakan gitu aja sama pendamping? pedamping itu hubungan sedekat apa dengan calon nasabah? apa benar-benar bisa dipercayakah?

Untuk urusan duit. sahabat yang udah akrab kayak saudara kandung sehidup semati, kalau udah urusan duit bisa tonjok-tonjokan sampai tewas.

Hak disabilitas adalah mendapat perhatian penuh. Disini kita coba menganalogikan tentang permintaan penyetaraan persamaan hak. Dalam contoh missal wanita, dimasa lampau dan sejarah, kedudukan wanita sering dianggap rendah, bahkan terkadang  hanya sebagai objek semata. Kemudian masuklah peradaban islam, yang memuliakan wanita, dimana salah satu cara islam memuliakan wanita adalah memerintahkan menutup aurat. Namun……. seiring berjalannya waktu, ternyata kaum hawa ini merasa kurang puas dengan aturan islam. banyak dari kaum hawa, termasuk saya, menganggap aturan islam terlalu mengekang hak wanita untuk mendapatkan kesetaraan. mulai deh dari situ bermunculan doktrin feminis.

Sekedar refresh, feminis menuntut adanya kesetaraan gender. kalau pria bisa berkarier dan mencapai TOP atau puncak kesuksesan, maka perempuan juga bisa, bahkan feminis menuntut agar pria mengakui bahwa posisi perempuan sama unggulnya dengan pria.

Saya coba tarik garis antara peristiwa di atas dengan disabilitas… artinya ini udah mulai masuk inti… sebelumnya sekedar prolog…

Siap ya? gak ada maksud buat mendiskreditkan, hanya mengatakan yang sebenarnya sesuai realita.

———– OK! Go! —————–

Urusan disabilitas terkait dengan bank, yang notabene berurusan dengan hak penyimpanan harta. sama halnya dengan kaum feminis tadi. yaitu mau disetarakan. Belum ada yang bisa mengukur secara pasti, bagaimana harta para disabilitas bisa tetap aman, dan merekalah yang memiliki hak penuh dalam mengatur harta mereka. Seperti yang diketahui, para disabilitas, yang jadi main object di sini adalah tuna netra, butuh pendamping.

Tuna netra berhak mendapatkan pekerjaan yang layak, berhak duduk di sekolah yang sama dengan orang normal, berhak beraktivitas layaknya orang normal, berhak mencintai dan menikahi orang normal, dan poinnya semua bisa diperoleh secara setara.

Tapi urusan harta? mereka berhak juga, tapi butuh perhatian lebih. tuna netra bisa membedakan uang 5000 dengan 100ribu dengan cara meraba atau aroma, ketika berhadapan dengan sesuatu yang digital, seperti komputer, mereka bisa membedakan huruf di layar adalah a atau b dengan mengandalkan pendengaran, artinya indera penciuman dan peraba mereka gak diperlukan lagi.

Lalu gimana kalau uang mereka disimpan di bank, sedangkan bank belum mampu menangani nasabah tuna netra? apa masih mau mengedepankan kesetaraan? seperti kesetaraan gender?

Misalnya kita pikirkan, bagaimana nanti cara mesin ATM itu bekerja? dengan menyatakan bahwa mesin ATM tersebut sudah layak digunakan oleh tuna netra, hanya berdasarkan bunyi nat nit nut…

1. apa mau nasabah tuna netra nanti bertransaksi di mesin yang bisa ngomong? bahkan membeberkan jumlah saldo? apa lagi PIN? okelah ada headphone. Realitanya: mesin ATM normal aja PIN bisa di colong, padahal gak pakai suara. Apalagi kalau mesinnya bisa ngomong? tinggal sadap, dan ludes uang nasabah tuna netra. kasihan gak? kalau saya kasihan… ilmu gak bisa dicolong tapi bisa dibagi. harta bisa dibagi dan dicolong.

2. apa mau nasabah tiap ke ATM bawa pendamping terus? lalu nanti pendamping yang mengoperasikan. gimana kalau pendampingnya pas lagi kepepet? tidak bermaksud menuduh… ini hanya kemungkinan.

3. pendamping nasabah sangat loyal, bisa dipercaya. tapi, pelayanan bank masih belum upgrade. Lalu, pendamping tersebut meninggal dunia, gimana tuh kelanjutannya? bisa gak nasabah tuna netra mendapatkan pendamping yang kualitasnya sama? dan masih banyak lagi, yang perlu dipikirkan.

Misal berdalih, “kan sekarang ada mobile transaction? pakai internet banking? pakai sms banking?” untuk tanggapan lanjutannya, bukan kapasistas aku lagi buat menjawab. Hanya aja.. hati-hati… kesetaraan artinya upaya menekan, meminimalisir, dan menghapuskan hak istimewa.

Sedangkan para disabilitas, khususnya tuna netra, hak mereka harusnya diistimewakan, bukan disetarakan. Jika merasa gemas atau mendapatkan diskriminasi. Mungkin bentuknya bukan petisi ke bank. Mereka ingin adanya pelayanan yang baik, seperti melayani orang normal. Dan diberikan kesempatan buat menyimpan hartanya.

Sebaiknya mereka diberi peluang untuk membuat Badan Penyimpanan Harta Khusus Disablitas. karena dia benar-benar mengerti dan memahami kebutuhan dan kelebihan sesama disabilitas.

[/quote]

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *